Thursday, July 30, 2020

Tips Untuk Mencari Pasangan Yang Cocok

Hai teman-teman, karena banyaknya request dari kalian mengenai topik 'relationship', aku memberanikan diri untuk mulai sharing mengenai hal ini. Sharingku ini personal dari pengalaman sendiri dan suami, jadi kami bukan ahli atau mau sok-sok ahli yaa. Di sini, hanya sekedar sharing saja karena ini memang blog pribadi.

pasangan menikah bahagia dan cocok


Anyway, mari kita mulai. Jujur, aku juga bingung mau mulai darimana. Lebih tepatnya, aku tidak merasa aku cukup berpengalaman dalam hal 'relationship', namun aku akan share sebisaku yah supaya kalian mungkin ada bayangan dan dapat insight juga.



Kenali personality calon pasangan dengan seksama dan mendalam

Caranya bagaimana? Dengan komunikasi dan observasi. Saat kita baru mengenal seseorang, tidak mungkin semua karakter dan sifat asli orang tersebut akan terlihat jelas. Selain itu, belum tentu orang tersebut punya cara pandang yang sama mengenai relationship dan tujuan yang sama dalam sebuah hubungan. Karena itu, dengan observasi kepribadian pasangan akan sangat membantu apakah dia ini akan cocok dengan kita atau tidak.

Waktu suami baru kenal aku, kita banyak membicarakan hal-hal yang personal. Kalau dari sisi suami, dia ingin mengenal aku lebih dalam. Kalau dari sisi aku, aku gak suka pembicaraan yang boring dan basa-basi. Aku suka pembicaraan yang serius dan deep.



Ini gak bisa applies ke semua orang yah, karena setiap orang berbeda dan cara komunikasi setiap orang juga berbeda. Kami hanya sharing dari sisi kami saja, belum tentu cocok untuk semua orang. :)

Suami banyak bertanya mengenai hubungan aku dengan keluarga inti aku (ayah, ibu, dan saudara kandung) dan juga pandangan aku mengenai pernikahan. Dia bilang dengan itu dia bisa menilai bagaimana kepribadianku dan sikapku terhadap keluarga, kedekatan aku dengan keluarga, dan juga ada bayangan bagaimana aku melihat sebuah hubungan sampai ke pernikahan. Memang sih, untuk beberapa orang mungkin topik-topik seperti ini terlalu serius atau kesannya buru-buru. Namun bagi kami berdua yang sudah dewasa, pembicaraan kami wajar-wajar saja karena kami menanggapi ini dengan santai seperti diskusi. Bertukar pikiran dengan calon pasangan mengenai konsep sebuah hubungan sangat perlu karena dengan ini kita dapat melihat apakah kita bisa cocok dengan orang tersebut atau tidak.

Aku sendiri juga banyak bertanya mengenai history hidup dia, pekerjaannya, hubungan dia dengan keluarga, history keluarganya, dan apa tujuan dia dalam hidup ini. Beberapa teman-temanku kaget saat mendengar topik-topik yang sering kami bahas karena terlalu berat dan serius. Namun, aku merasa biasa saja dan santai.



Ada yang bertanya, "Ih kalo kita sebagai cewe nanya gitu apa si cowo gak mikir kita ini yang kenafsuan atau pingin banget dinikahi?".

Jawabku, "Aku juga gak tiba-tiba nanya gitu, pertanyaan-pertanyaan ini keluar begitu saja dan ngflow dengan percakapan kami. Lagipula, cowonya bisa lihat dari attitudeku, dari cara aku bertanya, dan dari cara aku menjawab. Kalau dia sudah dewasa dan serius, dia bakal fair banget sih. Misalkan si pria mikir begitu, well, itu asumsi dia, urusan dia, dan aku gak peduli dia mikir apa soal aku. Yang jelas, kalo dia mikir gitu dan gak bisa mikir lebih dalam yah mungkin aku gak cocok sama dia. Gitu sih." As simple as that.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memang sebaiknya keluar dengan sendirinya mengikuti flow pembicaraan. Kalian juga harus lihat apakah pihak sebelah memiliki interest yang sama dengan kalian atau tidak. Jika dua-duanya memang serius mengenai sebuah hubungan, maka topik-topik seperti ini adalah hal yang sangat wajar untuk dibahas.


Banyak sih yang bertanya apa aku gak akan menyesal jika didekati pria dan lalu pria itu pergi jika dia ilfeel dengan pertanyaanku. Jujur, aku malah senang karena berarti memang bukan pria itu orangnya. Aku malas menghabiskan waktu untuk ngobrol basa-basi gak jelas dan berada di dalam hubungan yang tidak ada ujungnya. Wasting time. 

Aku selalu punya prinsip dari dulu kalau aku gak akan mau menikah jika aku tidak bisa nyambung dalam percakapan, diskusi dan tidak punya visi dan misi yang sama dalam hidup dengan pasangan. Menikah itu kan sekali untuk seumur hidup, buat aku adalah hal yang serius dan aku tidak mau terburu-buru. Ternyata, suamiku juga berpikir hal yang serupa, karena itu hubungan kami bisa diteruskan sampai ke pelaminan.


Ada yang bertanya, "Apakah tidak terlalu seperti detektif jika bertanya lebih jauh mengenai keluarga dia? Kan kalo kita nikah ya dengan pasangan saja, bisa jadi dia merasa tidak nyaman lalu setelah itu menjauhi kita."

Jawabku, "Masalahnya kita adalah orang Indonesia, yang memiliki kultur dan budaya yang berbeda dengan orang western. Jika aku menikah dengan dia, keluarga dia akan menjadi keluargaku juga, begitupun sebaliknya. Ini seperti percampuran dua keluarga secara tidak langsung. Dengan mengetahui mengenai keluarga satu sama lain, kami jadi punya bayangan apakah kehidupan rumah tangga kami nanti akan tentram atau tidak, karena setidaknya keluarga akan dapat saling mempengaruhi. Jadi menurutku bukanlah hal yang salah jika aku mau tau history keluarga dia secara mendetail, begitupula sebaliknya. Aku blak-blakan dengan dia. Dengan itu, tidak ada hal yang ditutup-tutupi dan tidak ada perasaan dibohongi jika sudah menikah nanti."



Kalau dari aku pribadi, aku gak bisa komitmen dengan orang yang aku tidak tau asalnya dari mana, latar belakangnya seperti apa, dibesarkan di keluarga seperti apa, apa kebiasaan keluarganya, kesulitan apa yang telah mereka lewati, dan apa prinsip hidup mereka. Kesannya aku detektif banget ya? Haha. Well, seperti yang aku bilang sebelumnya, setiap orang berbeda. :>

Sedangkan suami cukup berbeda dengan aku dalam hal ini, alasannya karena dia clueless; gak begitu mengerti mengenai relationship dan komunikasi seperti yang aku sebutkan di atas. Di sini kebiasaan dalam keluarga sangat berpengaruh, karena itu secara tidak langsung membentuk diri kita yang sekarang. Karena itu, aku kasih dia pandangan aku dan mengapa bagi aku hal-hal tersebut penting untuk aku ketahui di awal-awal hubungan, dan juga mengapa hal-hal tersebut penting bagiku dan ia ketahui sebelum pernikahan. Suami sangat open dan cepat belajar, baginya mengetahui hal-hal seperti ini membuat mata ia lebih terbuka mengenai hubungan dan pernikahan.

Mungkin kesannya complicated di awal-awal, tapi aku gak merasa seperti itu karena daripada complicated setelah bersumpah di depan altar lebih baik dari awal semuanya jelas. Mengenal seseorang tidak berarti kita dapat mengetahui pasangan dengan seutuhnya, karena seiring berjalannya waktu karakter-karakter terdalamnya akan lambat laun terlihat. Namun, dengan mengetahui latar belakang dan kebiasaan dalam keluarganya, aku cukup punya bayangan kira-kira seperti apa sisi lain yang suamiku belum tunjukkan. Ternyata, aku tidak terkejut karena aku sudah melihat ada pattern itu sebelumnya.

Waktu untuk mengenal satu sama lain tergantung masing-masing pribadi yah, dan juga tergantung apakah si calon pasangan juga tertarik dengan kita atau tidak. Menurutku hal yang banyak ditutupi dari awal itu tidak baik, jadi sebaiknya jujur di awal hubungan supaya dapat saling mengerti kepribadian satu sama lain. Dengan itu, kita akan tau apakah calon pasangan ini cocok dengan kita atau tidak.

Selain itu, dari aku dan suami: jika kamu percaya dengan adanya kuasa Tuhan atau kuasa yang tidak terlihat, berdoalah. Your faith will guide you.  :>





Pengalaman pribadi kami waktu awal-awal kenal


Aku tanya dia, "kenapa harus aku?"

Menurut suami, dia merasa semua yang dia cari di perempuan ada di dalam diri aku. Dari cara pikirku, cara aku bereaksi, cara aku memutuskan sesuatu, dia merasa akulah perempuan yang dikirim Tuhan untuk dia. Well, aku ngerti sih banyak orang nyinyir 'lebay' 'drama banget' atau 'creepy'. Tapi, sekali lagi, pengalaman setiap orang berbeda dan tidak ada yang aneh dengan hal yang kita rasakan.

Dia bilang, setelah beberapa kali komunikasi dan bertemu aku, dia merasa dapat insight dari Tuhan kalau aku orangnya dan dia sangat yakin karena dia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Aneh yah? Well, ini pengalaman personal dia. Sebagai orang yang beriman tentu saja banyak hal yang sulit dipercaya dan diterima jika hanya melihat dari sisi logika saja.

Sedangkan dari sisi aku, aku cukup denial. Karena walaupun dari awal aku punya firasat yang cukup kuat bahwa sepertinya suamiku lah orangnya, namun aku mencoba melawan firasat itu karena banyaknya pertimbangan-pertimbangan. Sikap denial inilah yang membuat kisah kami cukup complicated sebelum akhirnya aku benar-benar bisa menerima dia. 


Aku share dikit yah:

Waktu tahun 2016 awal, entah aku kesambet apa, aku mulai menulis beberapa kata-kata di dalam notesku yang menyiratkan bahwa pasangan hidupku akan segera tiba. Di saat ini, aku tidak mencari pacar dan sedang tidak ada perasaan dengan siapapun. I was single and happy. Namun, jika flashback, di tahun itu aku seringkali menulis puisi mengenai 'dia' yang akan datang yang Tuhan sudah siapkan untukku. Creepy? Mungkin saja. Yang jelas, jari ini bergerak sendiri mengikuti bisikan dalam hati. Saat itu, aku pikir aku hanya lagi dapat banyak ide untuk menulis saja karena aku memang senang sekali menulis. 

Aku tidak membawa tulisan-tulisanku terlalu jauh, karena aku tidak benar-benar memaknai artinya. Intinya, aku cuek saja. Lalu, beberapa bulan kemudian aku terbang ke Melbourne dan tinggal di sana selama 3 bulan. Beberapa bulan kemudian setelah aku kembali di Indonesia, aku berkenalan dengan suami.

Saat itu, teman tinderku M bilang, "sepertinya kamu bakal jadi sama yang ini". Saat itu, reaksiku yang, "hah? ketemu aja belum sama diaa, hahahah". Lalu dia bilang, firasat dia. Lucunya, hari itu aku delete Tinder setelah match dengan suami karena hari itu memang aku sudah memutuskan untuk delete Tinder. Alasannya, bosan. Yang aku tidak menyangka, sebelumnya aku sempat berpikir untuk delete 1 hari lebih awal, namun tidak jadi karena dorongan untuk give one more day. Yang akhirnya malah jadi hari di mana kami matched dan bye bye Tinder.

Memang sih banyak yang mencibir Tinder (tapi akhirnya ikut download dan malah mereka yang nafsu 😂). Tapi kalau dari aku sendiri, aku chill aja. Toh aku gak peduli orang mikir apa, yang terpenting aku sendiri tau apa yang aku lakukan. Waktu main Tinder, aku tidak berharap apapun selain semoga aku tidak menemukan siapapun di sini supaya aku bisa prove kalau jodohku memang tidak ada. Lah, malah ketemu. Ini mama aku juga mau ketawa, karena sebelumnya aku bilang ke dia "Jodohku pasti tidak ada, jadi aku buktikan dengan main Tinder pun tidak akan ketemu!". LOL, How silly I was.

Hal ini membuktikan apa? Bahwa kita manusia ini terbatas, dan ada yang melebihi kapasitas kita sebagai manusia, yaitu Tuhan. Terkadang, dengan semua keterbatasan kita sebagai manusia, kita tidak cukup mengerti dengan keagungan design-Nya.

Mau sedenial apapun aku, mau menolak gimanapun, akhirnya aku gak bisa lagi menghindari suami. Forcenya terlalu kuat untuk ditolak. Walaupun aku merasa hatiku belum siap, tapi hal yang telah direncanakan untukku telah tiba dan bersorak ria.

Pengalaman aku dan suami memang tidak sama, namun kami memiliki experience masing-masing yang personal. Yang jelas dari perasaan aku, aku juga merasa bahwa suamiku ini adalah 'orangnya', terutama dari cara dia menyampaikan maksud dan keinginannya ke aku. Itu cukup membuat aku kaget dan merasa ada kerja Tuhan dibalik semua ini.

Aku gak akan cerita kisah kami dengan lebih detail, mungkin di lain post. Jika ada yang ingin membaca lebih jauh mungkin bisa tinggalkan komentar di sini. Jika banyak, akan aku pertimbangkan untuk dishare.

winnie the pooh


Pasangan yang dirasa cocok itu personal, semua orang punya preference masing-masing mengenai hal ini, jadi aku tidak mau kasih saran ke kalian harus cari pasangan yang seperti apa personality dan karakternya. Karena hal-hal itu sangat subjektif dan kalian perlu cari tahu sendiri. :)

Apakah kami berdua cocok? Oh tentu saja tidak 100%. Pada kenyataannya tidak ada dua orang yang benar-benar sama dan yang benar-benar cocok.

4 comments:

Anonymous said...

Ciiiiii perbanyak post seperti ini donkkkk, aku enjoy banget bacanya, makaih ya ci uda sharing!

Anonymous said...

cii pengen baca lagi cerita kayak gini, ku suka bacanya ci.
soalnya aku pribadi sudah 29 tahun dan gak pernah pacaran. malah aku itu takut kalo di deketin cowok cii, jadi aku juga berpikir kayak cici jangan-jangan jodoh aku itu gak ada 💦😭😭😭

Anonymous said...

Idem sama yang di atas, sy jg suka bacanya, pengen tau lebih banyak ciiiii 🤧

Inke Maris said...

Thank you ci buat ceritanya.
Saya orangnya gak bisa bicara basa basi gak masuk akal ataupun menanggapi gombal cowo.
Terus terang saya gak pernah tertarik sama cowo dari fisik tapi dari komunikasi.
How deep we can talk about random topic, mostly I try to find if I could growing up with this guy and itu yang membuat cowo2 menganggap saya kaku/terlalu serius/robot.
Saya kayak merasa aneh kenapa teman2ku pada cepat dapat pacar/ suami. Sedangkan saya single forever (31 tahun ini)
Tapi herannya disamping galau gak nemu cowo yg serius. Saya gak merasa buru2 apalagi merasa tua. Malah semakin banyak keinginan untuk mengasah skill dan mikir pensiun nanti gimana.
Jadi sy juga sedang membuktikan kalau sy gak punya jodoh sebab mama saya selalu bilang "klo memang jodoh, gak bakalan kemana" tapi sy udah kemana2 dan gak nemu si serius-responsible yang kuinginkan. Hehe jadi curhat
Waiting for your next post :) BBU

Tips Untuk Mencari Pasangan Yang Cocok