Tuesday, January 08, 2019

November's Sketch

Belakangan ini kondisi tubuh aku memang sering drop, Mat rasa karena tubuhku masih menyesuaikan diri dengan cuaca di sini. Aku sendiripun merasa badan aku memang kurang fit belakangan ini, namun aku juga tidak mau berlama-lama merasa sedih atas kelemahan yang aku miliki, aku tetap mencoba menjaga kondisi tubuh aku supaya tidak gampang sakit.






Tidak terasa bulan November sudah berlalu, yang berarti, aku sudah tinggal selama 4 bulan di Inggris. Banyak yang bertanya bagaimanakah kehidupan aku di sini, apakah lebih baik dari Indonesia atau tidak, apakah aku betah atau tidak, apakah aku homesick atau tidak.






Jujur saja, perasaan kangen dengan keluarga sudah pasti ada. Apalagi aku sangat dekat sekali dengan keluarga aku, aku juga sangat kangen dengan 2 anjing peliharaan aku, terkadang aku sering bermimpi membawa mereka ke Inggris. 



Namun karena kami masih belum memutuskan apakah kami akan tetap stay di Inggris untuk seterusnya atau tidak, aku menahan keinginan tersebut.







Untuk saat ini kami akan tetap stay di Inggris karena Mat masih study di sini, namun kami belum memutuskan apakah kami ingin settle di sini atau tidak, mungkin kami akan pindah lagi ke negara lain, atau bisa jadi akan balik ke tanah air.


Beberapa hari ini kami sempat membicarakan bagaimana kami kangen dengan Indonesia, bukan karena makanannya, namun karena adanya perasaan yang tidak dapat dijelaskan, perasaan dekat seperti di rumah sendiri yang berbeda dan tidak kami miliki di sini.



Mungkin orang-orang berpikir betapa enaknya tinggal di luar negeri, mungkin dianggap keren?







Tapi bagi kami berdua, tidak ada hal yang luar biasa. Biasa-biasa saja. Memang sih beberapa hal lebih maju di sini, seperti dalam hal kesehatan, lalu udaranya bersih dan pemandangannya indah.. dan lain-lainnya.



Namun sebenarnya di mana pun kami berada, yang terpenting adalah dengan siapa dan bagaimana kami menjalani hidup, apa yang bisa kami perbuat di sini untuk orang lain, apakah kami bisa menghidupi hidup kami dengan sebaik-baiknya atau tidak.


Dan tentu saja,
'apa yang bisa kami pelajari di sini'
baik untuk diri kami sendiri dan juga untuk orang lain.


Setiap hari aku menghabiskan waktuku dengan Mat, membicarakan topik-topik yang menarik dalam hidup, mendukungnya dengan study yang sedang ia jalani, menjadi istri dan ibu rumah tangga yang berusaha menjaga rumah tetap nyaman dan memastikan kami berdua mendapatkan gizi yang cukup setiap harinya.



Terkadang aku juga mengikuti beberapa kegiatan-kegiatan di sini dan bersosialisasi walaupun bisa terhitung jarang.


Mungkin kalian akan berpikir, tidak ada yang menarik sama sekali dan tidak ada yang spesial sama sekali?



Orang-orang pun bingung kenapa aku gak pergi jalan-jalan atau keluar kemana-mana mencari teman, aku bingung karena tujuan utama aku kesini bukan untuk jalan-jalan. Apalagi aku introvert, di rumah saja aku sudah senang.


"kamu sudah di Inggris kok di rumah saja tidak kemana-mana?"

"kamu kok tidak bekerja? sudah di luar negeri!"


Ya memangnya harus kemana? harus ngapain?







Dulu, aku tidak pernah punya keinginan untuk menikah sehingga orang-orang di sekitar aku menganggap aku aneh. Untuk punya pacar saja aku enggan apalagi menikah.



Tetapi karena ada tekanan dari sana-sini, aku pernah beberapa kali kepikiran bagaimana kalau seandainya aku dijodohkan atau dipaksa untuk menikah demi menjaga 'muka' orang tua.


"Kamu anak pertama jangan bikin malu papa mama kamu!"








Lalu aku membayangkan, tentu saja aku tidak mau menjadi ibu rumah tangga atau istri yang stay di rumah. 


Aku ingin mengejar passion aku, melakukan hal-hal yang aku sukai, berkarir dan terus belajar. Saat itu menurutku menjadi ibu rumah tangga sangat membosankan, stuck.


Aku pikir, pernikahan bagaikan nightmare (mimpi buruk).



Namun lucunya, walaupun aku sempat percaya kalau Tuhan itu tidak ada, nyatanya Tuhan selalu ada dalam perjalanan hidupku, Ia selalu ada, Ia memiliki rencana yang tidak biasa dan sama sekali berbeda dengan apa yang dulu pernah aku bayangkan. 



Tanpa aku sadari diriku pun berubah dengan sendirinya dan aku tidak pernah dapat mengerti mengapa aku bisa berubah, mungkin tidak ada yang percaya. Sampai saat ini aku masih sering bingung kenapa aku bisa memutuskan untuk menikah, tapi yang jelas aku tidak menyesal dengan keputusanku.







Di dalam hal yang terlihat biasa-biasa saja di sanalah terdapat kebahagiaan dan kepuasan yang sesungguhnya, -




***



Mat tidak pernah menuntut apapun dari aku, dia juga tidak mempengaruhiku untuk berpikir bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah sesuatu yang wajib aku lakukan. Dia tidak mengurung aku, dia tidak membatasi aku, justru dia mendukung hal-hal yang dapat aku kembangkan dalam diriku.



Dulu orang-orang di sekitar aku sangat bingung mengapa aku takut untuk menikah, mungkin sebagian besar dari kalian juga, aku memiliki banyak alasan yang membuat aku tidak mau menikah dan enggan untuk menjalin hubungan dengan orang lain, tapi untuk saat ini aku masih belum bisa terbuka soal itu.


Yang jelas aku sangat bersyukur karena aku bertemu dengan Mat, jika pasanganku bukan dia mungkin aku tidak akan pernah ingin menikah. Aku tidak akan menikah jika bukan dengan orang yang benar-benar mengerti aku dan menerima aku apa adanya.







Dan aku tidak akan menikah dengan orang yang tidak membuat aku merasa terhubung secara pikiran, jiwa, dan spiritual. Karena romance saja tidak akan cukup bagiku.



One of the things IN**s find most important is establishing genuine, deep connections with the people they care about.


When it comes to intimacy, IN**s look for a connection that goes beyond the physical, embracing the emotional and even spiritual connection they have with their partner.



Saat aku mengucapkan janji pernikahan di depan Tuhan, saat itulah a
ku sudah berkomitmen untuk menjadi istri Mat dan aku akan berusaha yang terbaik untuk itu.


Aku tidak pernah menyangka menjadi istri dan ibu rumah tangga akan se-menyenangkan ini, memang tidak ada sesuatu yang luar biasa dalam keseharianku namun aku rasa disanalah hal yang berharga itu berada.



Yaitu perasaan bersyukur dan cukup atas semua yang aku miliki selama ini, dan dalam segala kekurangan dan kelemahan yang aku miliki, I feel content.







Banyak perempuan-perempuan yang DM aku di Instagram dan cerita bagaimana mereka melihat kehidupanku saat ini yang menurut mereka inspiratif. Ternyata banyak yang menganggap remeh profesi ibu rumah tangga dan melihatnya dengan sebelah mata.



Manisnya, banyak yang melihat profesi ini menjadi profesi yang fun dan mulai membuka hati mereka, kata mereka karena aku terlihat bahagia dan menikmati keseharian aku. And yes, I'm blisfully happy with my life. Bukan karena jadi ibu rumah tangga, tapi karena aku bersama dengan orang yang tepat!



Aku sebenarnya tidak menyangka kalau hal-hal biasa yang aku share ternyata bisa juga berdampak positif.


Btw, belakangan ini aku sadar, sejak aku menikah follower aku mulai berkurang dan engagement di media sosial juga berkurang cukup drastis. Aku tidak heran, mungkin mereka bosan.


Ternyata aku sudah berubah, kalau dulu hal ini bisa membuat aku kepikiran dan sedih. Bagaimana dengan profesiku sebagai blogger?


"Apakah mereka membenciku?"







Namun saat ini aku sudah tidak kepikiran sama sekali, malah anehnya, aku merasa cukup lega. Karena berarti yang tetap stay dekat aku, they're real, they don't leave me. Thank you! :)


Aku jadi ingat beberapa tahun lalu sebenarnya aku ingin menghapus semua media sosial aku karena aku merasa lelah, but I'm glod I stay.



***










Mungkin akan ada lagi gejolak dan perubahan dalam hidupku namun aku tahu jika bersama dengan Mat, aku rasa aku siap menghadapinya.



Jangan meremehkan perasaan syukur yang tulus, buang segala perbandingan yang diri kita sendiri buat kepada orang lain. Itu hanya akan membuat diri kita tidak bahagia.


Dengan menerima semua kekurangan, kelemahan dan ketidakpastian dalam hidup, kita akan merasa lebih bahagia dan puas dengan segala yang telah di-design dan diberikan Tuhan.


Aku tidak sempurna, aku sendiri juga terus belajar dan akan terus belajar untuk seterusnya.

No comments: