Saturday, July 21, 2018

HOW IT STARTED

Mempersiapkan pernikahan benar-benar hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Namun setelah bersama dengan Mat kesiapan itu muncul begitu saja. Aku masih ingat dengan jelas akhir tahun 2016 kami ngobrol santai mengenai tujuan hidup dan apa yang kami cari dalam hidup. Saat itu kita berdua belum jadian (lol).

Kebetulan gelombang Mat sama dengan aku, makanya kami bisa langsung nyambung dan ngobrol topik-topik yang deep dengan santai. Malahan itu jadi hal yang menarik untuk kami bahas.




Cerita bagaimana akhirnya kami memutuskan untuk menikah sebenarnya tidak ada yang spesial, tapi mungkin bisa aku ceritakan dengan sesingkat mungkin.




Di Indonesia jika dua orang ingin menikah, semua keputusan tidak bisa 100% dari kedua calon pengantin karena ada kedua orang tua yang tentu saja berpengaruh penting dalam kehidupan anak-anaknya.


Begini, awalnya aku dan Mat ada pembicaraan mengenai pernikahan. Kami punya bayangan sendiri pernikahan seperti apakah yang kami inginkan dan yang ideal. Kalau aku awalnya hanya ingin pemberkatan saja karena bagi aku itu yang paling penting. Kalau Mat, ia ingin membuat acara spesial yang lebih intimate dan personal sesuai kemampuan dia. Kami awalnya hanya berencana mengundang keluarga yang dekat dan teman-teman yang dekat saja supaya acaranya dapat lebih personal.


Namun realitanya tidak semudah itu. Karena aku adalah anak pertama dan cucu pertama (dari pihak papa) tentu saja ini adalah pertama kalinya orang tua aku akan menikahkan anak mereka. Jadi sangat tidak mungkin jika aku ingin egois dan tidak mempedulikan perasaan Papa Mama. Tentu saja Mama yang excited ingin mengundang semua teman-teman dan keluarganya. Dan begitu pula dengan Papa, ia pun ingin mengundang rekan-rekan bisnisnya. Entah kenapa aku tau mereka pasti ingin mengundang semua orang yang mereka kenal. (^^" )


Aku sempat ngobrol-ngobrol dengan Mama tentang pernikahan, saat itu aku belum memutuskan akan menikah dengan Mat. Semakin ngobrol jujur saja aku jadi semakin tidak ingin menikah, karena bagi aku terlalu ribet dan memusingkan. Perasaan aku pun tidak beraturan, namun aku tetap harus menyampaikan semua harapan Mama ke Mat.


(aku cerita sedikit soal pergumulan aku)




Karena dari awal perkenalan aku selalu terbuka dengan Mat, maka hal penting ini pun tidak aku tutup-tutupi dari dia. Aku cerita mengenai harapan Mama dan diskusi dengan Mat, aku ingin tau bagaimana pendapat Mat mengenai hal ini. Jujur ini tidak mudah, namun jika kami ingin serius yang pertama Mat harus hadapi adalah orang tua aku. (haha)

Mat menanggapi dengan solusi sedangkan aku tenggelam dalam pergumulan diri sendiri (I have my inner struggles, we all have!). Aku merasa sedikit kecewa jika harus menuruti Mama karena yang ia inginkan sangat berbeda jauh dengan yang aku dan Mat inginkan, lalu harus bagaimana?

Aku berjuang merapikan perasaan aku sendiri sampai akhirnya aku memilih untuk mendengarkan Mat agar mengabulkan harapan Mama. Dan aku pun mencoba percaya jika Mat benar-benar ikhlas dan akan mengusahakan apapun demi aku tanpa perasaan keberatan sedikitpun.


Aku sangat sayang dengan Mama, karena itu aku sangat struggle dengan perasaan aku. Aku ingin egois tapi tidak bisa aku lakukan karena aku tidak ingin Mama merasa kecewa dan sedih. Di luar ketidakinginan aku mengecewakan Mama, aku pun memikirkan kondisi Mat yang baru saja mulai study Phd-nya, secara kondisi ia pun masih terbatas jadi aku pun tidak ingin memberatkan dirinya..





Namun Mat dan aku percaya pasti ada jalan jika kami dapat lebih fleksibel dalam menanggapi harapan orang tua dan Mat ingin menunjukkan keseriusannya dengan pernikahan ini. Awalnya Mat ingin meng-cover semua biaya dengan kemampuannya sendiri, tapi hal berjalan kearah yang lebih besar melebihi kemampuannya.

Aku ingin mendukungnya dan berencana tidak mau menerima bantuan Papa Mama-ku. Namun justru hal itulah yang membuat situasi semakin rumit karena aku terlalu keras kepala. Semakin banyak merenung akhirnya aku semakin melunak dan dengan rendah hati menerima bantuan Papa-Mama. Setelah itu semua menjadi lebih mudah, aku dan Mat pun tidak terlalu stress.

Mat dapat bertanggung jawab sesuai dengan kemampuannya dan orang tua ku pun punya kesempatan membantu kami. Papa-Mama dapat menyuarakan pendapat mereka dan memberi saran dari sisi mereka sebagai orang tua.

Saat itu aku berpikir, sifatku yang sering merasa tidak enak mungkin juga adalah penyebab stress ku sendiri. Mungkin sebelumnya aku terlalu keras dan tidak ingin menerima bantuan sehingga memperumit kondisiku sendiri. Nyatanya banyak orang-orang di sekitarku yang ingin membantu, aku hanya perlu meminta tolong dan menghargai bantuan mereka. Lucunya justru banyak yang menawarkan bantuan tanpa aku perlu meminta tolong.

What I think? I'm blessed.


- - -


Tahun lalu di bulan July, kami berdua iseng mampir ke Jakarta Wedding Festival karena kami melihat billboard-nya di jalan tol. Tujuan awalnya hanya untuk 'cek harga' dan lihat-lihat supaya kami tahu apa saja yang perlu kami persiapkan untuk pernikahan. Kami dapat banyak sekali brosur dan penawaran, namun karena kami berdua belum benar-benar memutuskan tentang kepastian kami akan menikah, kami banyak skip penawaran sambil melihat-lihat venue.





Saat itu kami melihat sebuah gedung yang berlokasi cukup strategis dan memiliki penawaran yang cukup bagus. Gedung ini terhitung cukup baru dan memiliki interior yang terlihat mewah (difoto), kami berpikir mungkin orang tua-ku akan suka. Kami mulai bertanya-tanya mengenai harga, paket, dll.

Lalu Mat mendadak bertanya kepadaku mengenai kesiapan aku untuk pernikahan, aku sebenarnya merasa cukup siap, tapi saat ditanya langsung seperti ini mendadak aku ciut (lol). Aku benar-benar tidak dapat membayangkan akan dengan serius memulai hidup yang baru sebagai istri orang. Sebelumnya berpikir untuk pacaran saja aku tidak.

Dalam hati aku bertanya apakah aku benar-benar siap? Banyak kekhawatiran, ketidakpastian yang muncul melayang-layang di pikiranku. Hubungan aku dan Mat saat itupun baru saja kembali dari kehancuran, karena kami LDR banyak hal yang sangat terasa berat.

Semua ketakutan aku mengenai pernikahan muncul kembali. Aku menatap mata Mat dan menghela nafas, sejenak aku mengosongkan diri dan membiarkan diriku dituntun, lalu ada sebuah cahaya yang muncul dan aku seperti diberi kekuatan yang 'berbisik' "semua akan baik-baik saja".


Lalu aku menjawab dengan nada pelan, "Jika kamu yakin dan siap, aku rasa aku pun siap".


Mat menatapku dengan mantap dan berkata, "Tentu saja aku siap. Okay, aku akan DP gedung ini dan kita lihat apa yang akan terjadi saat aku menemui orang tua kamu. Aku yakin ini akan menjadi titik awal perjalanan kita menyiapkan pernikahan".






Aku tidak begitu yakin kalau orang tua-ku akan menyukai gedung ini karena kapasitas maksimalnya hanya sekitar 1000 orang. Namun apapun yang akan terjadi setelah ini yang terpenting adalah kami berdua sudah yakin dengan keputusan kami untuk menikah.

Setelah ini, Mat menyiapkan hatinya untuk meyakinkan orang tua aku atas keseriusannya. Ia sampai bingung bagaimana memulai percakapan dengan kedua orang tua aku, jujur saja tidak mudah karena orang tua aku sulit didekati secara personal. Selain itu, cukup sulit menemukan waktu yang pas untuk berbicara karena mereka berdua sangat sibuk.

Malam itu aku mencari kesempatan dan mengatur makan malam dengan kedua orang tua aku supaya kami memiliki waktu yang cukup santai. Mat sangat tegang dan merasa tidak nyaman, namun ia tau ia harus melewati ini untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua aku. Aku sendiri pun sangat nervous karena aku tau cukup sulit untuk melunakkan hati Papa, apalagi Mat datang dari latar belakang yang sangat berbeda dengan Papa. Mat adalah seorang musisi dan Papa aku pebisnis.

Saat kami hampir selesai makan malam, aku mengajak Vina untuk keluar dengan alasan ingin beli Ice Cream. Lalu kami berdua meninggalkan Mat sendirian dengan kedua orang tua aku agar mereka dapat ngobrol dengan serius. Aku tidak tau dengan persis apa yang terjadi saat aku meninggalkan mereka namun saat aku kembali, aku dapat melihat kalau Mat berhasil dengan rencana-nya!


Mama hanya senyum-senyum sepanjang malam dan Papa terlihat banyak memikirkan sesuatu. Aku tau Mama pasti sangat bahagia dengan berita ini (lol) dan Papa lebih banyak diam.
(untuk detail cerita tenang ini mungkin dapat aku ceritakan lain kali)

Lalu percakapan berlanjut ke sikap yang telah Mat ambil sebelumnya, mengenai DP gedung yang telah ia lakukan untuk menunjukan keseriusan-nya.


Kami mengatur waktu agar kedua orang tua kami dapat melihat gedung tersebut secara langsung, kami sendiri pun baru pertama kali mendatangi lokasinya. Saat sampai di gedung parkiran, hatiku mencelos. Aku tau kedua orang tua ku tidak akan suka tempat ini, parkiran-nya kurang luas dan kurang nyaman.

Saat masuk melihat interior gedungnya (kebetulan sedang ada resepsi juga hari itu), aku dan Mat senang dengan langit-langit gedungnya yang tinggi dan lampunya yang cantik. Namun aku tau dengan pasti, kedua orang tua-ku tidak akan setuju dengan ukurannya karena 'kurang luas' dan tidak bisa muat banyak orang.

Benar saja setelah meeting dan cek lokasi, banyak kekurangan venue ini yang disebutkan oleh Papa. Aku tidak kaget, namun aku merasa tidak enak dengan Mat, untungnya Mat menerima pendapat Papa-Mama dengan penuh pengertian. Ia merasa pendapat Papa cukup logis dan mendengarkan rekomendasi Papa.

Setelah banyak bergumul akhirnya aku memilih mempertimbangkan rekomendasi Papa-Mama. Memang banyak teman-teman yang menyarankan untuk ngotot saja karena ini adalah acara pernikahan aku sendiri, jadi sudah sewajarnya mengikuti keinginan aku.
Tapi secara pribadi aku memang anak yang ingin menyenangkan hati orang tua dan tidak ingin mereka merasa kecewa.


Jadi demi kesenangan semua pihak akhirnya kami mengganti gedung dengan gedung yang lebih luas dan membiarkan DP kami sebelumnya hangus begitu saja.

Mat bilang, "Uang segitu tidak ada apa-apa nya dibandingkan mendapatkan restu Papa-Mama kamu".

Aku terharu :')


Aku dan Mat beberapa kali berdiskusi dengan Papa-Mama ku untuk persiapan pernikahan kami berdua. Ternyata dengan sedikit mengalah dan mengerti mereka semuanya berjalan dengan lebih baik. Sebelumnya aku sempat agak down dan mengurung diri karena merasa tertekan dengan banyak hal. Namun dengan membiarkan beberapa hal mengalir saja membuat aku lebih santai dalam menjalani semua proses ini.

Bagaimanapun aku harus menerima kenyataan dan ikhlas kalau pernikahan ini tidak bisa 100% mengikuti keinginan aku dan Mat saja. Bagiku, kebahagiaan dan kebanggaan orang tua aku lebih penting daripada ego ku sendiri. Dan ternyata Mat pun berpikiran sama.. :)


Apakah aku kecewa dengan rencana pernikahan aku sendiri?
Tentu saja tidak!





Selain venue dan jumlah undangan yang mengikuti rekomendasi orang tua, vendor-vendor lainnya adalah pilihan aku sendiri (dengan diskusi dengan Mat terlebih dahulu) seperti gaun pengantin, make up artist, bunga, invitation card, dekorasi dan lain-lain. Aku justru berkesempatan untuk memilih tema dan design dengan lebih personal karena harapan Mama pada awalnya telah kami penuhi.


Aku sangat mengerti kesulitan anak-anak sepantaran kita untuk mengalah dan mempertimbangkan keinginan orang tua di atas keinginan diri sendiri untuk hari yang penting seperti pernikahan. Namun, daripada ngotot dan membuat perasaan orang tua sedih, kecewa, lebih baik aku sedikit mengalah demi kepentingan bersama. Yang terpenting, pernikahan dapat berjalan dengan lancar dan semua orang senang.


Mungkin pernikahan aku dan Mat tidak bisa benar-benar 100% seperti yang kami inginkan, namun terkadang kita memang tidak bisa mendapatkan hal yang benar-benar kita inginkan. Karena pada realita-nya, banyak faktor-faktor lain yang harus dipikirkan dan pendapat orang-orang di sekitar kita seperti keluarga pun boleh didengarkan supaya tidak ada ribut-ribut untuk ke depan-nya. Walaupun sebenarnya kita berhak untuk cuek, tapi kalau aku sendiri memang aku terlalu memikirkan perasaan orang tua aku (lol).




Bagi aku dan Mat, perayaan yang sebenarnya ada dalam diri kami yaitu kemenangan hati atas kesiapan kami berumah tangga, itu yang penting. Pesta, gengsi, bukanlah hal yang penting bagi kami. Jadi ada pesta pun baik kecil maupun besar, kami syukuri keduanya.


Kebetulan Papa-Mama aku memiliki banyak relasi dan cukup dekat dengan keluarga besar. Semua rencana pernikahan sebenarnya tergantung kebutuhan dan preference keluarga masing-masing. Mungkin pernikahan aku dan Mat seperti ini karena ini yang cocok untuk keluarga kami (terutama aku), bisa saja di keluarga kalian berbeda lagi.

Yang terpenting semua harus di diskusikan secara terbuka antar pasangan dan keluarga inti, sebaiknya tidak ada pihak yang ngotot atau terlalu memaksa. Terkadang sebagai anak, mungkin ada waktunya juga kita harus mengalah dan menghargai keinginan orang tua.


Secara pribadi, aku dan Mat menganggap acara resepsi pernikahan ini sebagai acara terakhir yang harus kami lewati. Aku tau resepsi ini adalah hal yang sangat penting untuk Papa-Mama ku dan aku pun bersyukur karena Mat bersedia untuk mengesampingkan banyak ide-ide nya untuk pernikahan kami.

Kami pun merasa senang karena Papa-Mama dapat mengundang semua keluarga dan teman-teman mereka untuk merayakan pernikahan kami. Setelah ini aku akan pergi ikut dengan Mat ke Inggris dan membina keluarga yang baru bersama-sama.

Mungkin saja tidak akan banyak kesempatan bagi aku dan keluargaku untuk sering-sering berkumpul lagi dalam beberapa tahun kedepan. Karena itu aku ingin saat-saat terakhir ini membuat Papa-Mama merasa bahagia dan semua ini akan baik untuk dikenang mereka.


Melihat mereka berdua merasa lega karena akhirnya aku menikah, aku mendadak teringat nasihat Shen2 aku di Melbourne (istri Shu2 aku yang ketiga aka istri adik papa yang ke3), kalau orang tua pasti akan merasa bahagia jika melihat anak mereka dapat menikah. Sebenarnya aku selalu mengetahui hal ini tapi aku selalu menolak fakta itu sampai saat aku diingatkan kembali beberapa tahun lalu.

Sebenarnya keputusan aku untuk menikah dengan Mat bukan karena demi membahagiakan orang tua ataupun karena tuntutan sosial seperti umur.

Namun jika memang keputusanku ini benar-benar membahagiakan mereka, mengapa tidak? Karena aku pun tidak terpaksa dan kesiapan ini memang datang dari dalam diri ku sendiri. Aku sadar mungkin saatnya telah tiba dan Mat lah orangnya, sesuai intuisi yang telah aku tulis 2 tahun lalu.

Sebenarnya bagaimana cara aku bereaksi dengan kesempatan ini tergantung dari aku sendiri. Aku dapat saja menolaknya dan mungkin kisah hidupku yang akan datang akan berbeda dengan yang akan kujalani saat ini.

Tapi ini adalah kisahku dan jalan yang kupilih untuk aku hidupi sampai aku menghilang nanti dari dunia ini. Ini hanyalah awal dari hidup aku yang baru dengan Mat, sebuah awal yang diawali kesiapan kami berdua dan akan mengawali awal lainnya dalam hidup kami berdua kedepannya.






Thanks for reading guys, terima kasih karena telah mengikuti aku sejauh ini. Dari awal aku nulis blog mengenai kecantikan sampai tahap ini di hidup aku. Aku harap lebih banyak hal yang dapat aku share ke kalian untuk kedepannya. Good Luck! 0:D

No comments: